Takkan pernah hilang walaupun aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menepisnya.
Walau kau jauh, aku takkan pernah bisa melupakan rasa ini.
Rasa yang indah ini masih ada.
Pernah ku membuka hati untuk yang lain berharap untuk bisa berpindah hati.
Tapi ternyata malah makin parah.
Itu hanya lebih-lebih meyakinkan aku untuk mempertahankanmu.
HINGGA SEKARANG.
Menatap indah senyumanmu seperti aku ingin mengingat ke masa lalu lagi.
Masa yang pernah kita lewati bersama terasa indah.
Kini aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan.
Yaaa bukan menatap sepertinya tapi mengingat wajahmu dari depan tanpa kutahu dimana kau sekarang berada.
Dirimu belum kutemukan.
Cintamu masih kurasakan.
Hadirmu terasa masih di sampingku..
Bila nanti kita memang tak ditakdirkan bersama, mungkin itu saatnya aku melepasmu jauh dan sangat jauh hingga bayangmu tak tampak di depan mataku.
Walau ku tahu itu sangat sulit.
Sulit sekali melupakanmu.
Tapi jika memang kita di takdirkan bersama, kan kucintai kau lebih dari ini..
Mungkin yang dinamakan cinta adalah
Saat kau melihatnya kau melihat sinar kelembutan.
Saat kau tak bisa jauh darinya. Jauh darinya serasa kau kesepian.
Saat kau ingin bersamanya tak peduli bagaimana keadaanmu.
Saat kau ingin dia hadir di malammu walau hanya sebentar.
Saat kau ingin sekali dia ada di mimpimu.
Saat kau berdoa kau pun ikut mendoakannya.
Saat kau di dekatnya kau merasa degup jantungmu meningkat drastis.
Saat dia tak ada kau mencarinya.
Saat kau dengar suaranya di telepon kau sangat senang dan tenang sekali.
Saat dia menanyakan kabarmu di pesan atau di telepon kau langsung jingkat-jingkat gak karuan gak jelas kayak orang linglung.
Cinta emang bikin agak linglung.
Tapi sayang lah kalau cinta gak dinikmati.
Tapi satu hal yang masih aku sadari dan aku yakin itu belum berlalu adalah rasaku kepadamu.
Bagai bintang di langit yang menghiasi malam ketika tidak mendung dan bersembunyi di awan ketika mendung.
Seperti ituulah aku.
Dan saatnya mendung itu usai.
Dan kau pun tak akan membiarkan bintang setiamu jatuh ke bumi.
Karena bila sudah jatuh bintang tak dapat kembali lagi.
Begitu jugaa rasa cintaku jika sudah pergi takkan bisa kembali lagi.
Kerena kamu yang datang kepadaku lalu
pergi lagi datang lagi
pergi lagi datang lagi
pergi lagi datang lagi
Pergi lagi datang lagi
Berkali -kali datang pergi dengan alasan yang sama.
Hati aku bukan lagi seperti layangan.
Tapi sudah hancur berserakan sampai tidak bisa diambil orang lain lagi.
Karena kamu yang tahu kepingan mana ajaa yang kamu hancurkan.
Dan hanya kamu yang tahu benar cara menyusunnya dengan tepat.
Aku hitung sudah banyak cara buat aku ngelupain kamu.
Gue heran sama lo..
Kayaknya gue gak bakal bisa ngelupain lo.
Lo itu agaknyaa selalu hadir dan hadir lagi di hidup gue
Pergi?
Dan lo pergi??
Lo yang nahan gue.
Lo yang gak mau gue pergi.
Entah deh. Lo itu aneh.
Katanyaa gue gak boleh pergi tapi kenapaa lo ngecewain gue, hah??!!
Apa maksud lo gue gitu yang harus ngusir lo atau gue yg harus tau diri gue ituu sapaa..
Gue emang siapaa lo??
Orang yang dicinta??
Atau orang yang gak penting??
Aneh tapi nyata sikap lo ini. Di cerpen adaa sih cerita begini. Tp akhirnya bahagiaa. Yaa iyaa lah akhirnya bahagia karena itu cerita.
Eh kita berdua juga cerita ya.
Bertiga maksud gue..
Dan kini aku kehilangan cintaku.
Cinta yang selama ini aku rasa.
Cinta yang selama ini aku pertahankan.
Cinta yang bisa membuat aku percaya dunia ini indah.
Cinta yang membuat aku semangat.
Cinta yang membuat aku jadi berarti.
Cinta yang membuat dunia dan inspirasiku luas.
Cinta yang bisa membuat aku memikirkan ketidakmungkinan menjadi mungkin.
Cinta yang indah yang tak pernah kurasa sebelumnya.
Cinta yang dengan segalanya hingga aku bisa membuat tulisan-tulisan ini.
Tapi apa dayaku . Aku tak bisa pergi, beranjak, ataupun marah dengan siapapun.
Tapi intinya aku gak bakal rela kalau sampai kehilangan cintaku lagi.
Sakit banget rasanya..
Kamu, asal kamu tahu..
Cintaku kekamu gak bakal pernah pudar...
Aku kering seperti daun kehilangan embun.
Entah kenapa hari ini.
Disaat semuanya ingin jelas nyatanya malah makin tak jelas.
Sebenarnya ada apa di antara kami.
Tak tahu benar masalah seperti apa.
Akuu hanya ingin tahu.
Tapi nyatanya malah semakin tidak tahu.
Tak jelas. Tak nyata.
Seperti bukan sebuah kenyataan.
Aku tak pernah tahu masalahnya.
Masalah di antara kita.
Waktu yang nunggu kita itu ya benar.
Cinta datang seiring waktu?
Benarkah itu?
Ya, ada benarnya ada tidaknya.
Benar karena waktu lah menunggu kita memberi ruang untuk hati yang baru.
Salahh karena memang waktu gak mau menunggu.
Jika kita menunggu waktu, hal yang lain akan terbuang sia-sia.
Tapi aku di sini bukan menunggu waktu.
Tapii aku menunggu seseorang yang membuatku sampai bisa menghabiskan waktuku untuk mencintai yang lain.
Oleh karena itu, waktu jangan ditunggu.
Suatu saat waktu itu akan datang dan pasti ia meminta untuk ditunggu.
Maka dari itu, nikmatilah hidupmu sebelum waktu datang meminta untuk ditunggu.
Karena jika sampai waktu meminta untuk ditunggu, ituu sangat menyebalkan sekali.
Hehe...
Pohon seolah tampak nyata lagi.
2 tahun tak bertemu akhirnya kita bertemu kembali.
Saat aku melihat matamu.
Aku tak memperdulikan apapun kau lakukan padaku.
Yang ada hanya menatap, sinar cinta, sinar cemburu , sinar bahagia terpancar dari matamu.
Apa kau mengerti sesuatu saat kau menatapku?
Aku mengerti tapi tertutupi oleh rasa rinduku padamu yang begitu dalam sampai tak bisa kubendung lagi.
Dalam..
Dan kali ini entah sudah berapa ratus meter aku terjebak di dalam lubang itu.
Pernah aku mendaki tapi pada akhirnya aku semakin jatuh ke dalam.
Kedalam lubang yang sama dengan orang yang samaa hingga sekarang.
Kapan aku bisa mendaki.
Entah aku mendaki bersamamu atau tidak.
Yang penting aku berada di lubang yang sama denganmu.
Di sampingmu .
Karena aku sangat yakin.
Cinta itu akan terus membara.
Dan walaupun ada api di dalam lubang itu.
Ituu api kita.
Api cinta kita yang membara.
Jika pun ada orang lain yang masuk lubang kita.
Dia akan terbakar api cinta kita.
Karena api cinta kita tak pernah padam.
Hanya pernah redup.
Aku terus menjaga api itu dari air.
Pernah suatu hari ada yg mambawa air di atas lubang.
Dan ia memanggilku.
Karena memang waktu itu aku lengah menjaga api dan aku mendaki. Tapi aku terjatuh lagi.
Akhirnya orang itu pun jatuh ke lubang.
Dan berusaha memadamkan api kita.
Tapi ternyataa kau malah membakarnya.
Kau benar-benar jahat dan aku tahu itu.
Kau memang selalu tahu apa pun yang harus kau lakukan.
Cinta kita tak akan pernah padam.
Api kita akan selalu membara.
Tapi satu hal yang mengganjal dalam pikiranku.
Kapan kita mendaki bersama?
Itulahh pertanyaanku yang belum terjawab sampai sekarang.
Jatuh cinta memang mudah.
Mencintai itu yang sulit.
Aku tak pernah merasa seperti ini.
Ingin mencintai, hati sudah pas tapi sadar logika pun berbanding terbalik dengan hati.
Guncangan pikiran tak bisa hilang.
Amarah, emosi menjadi satu.
Ingin kutinggalkan dia.
Ingin kubuang jauh-jauh tentangnya.
Tapi hati ini. Hati yang terdalam tak rela.
Bahkan tak rela sekali.
Inii hati sulit untuk melepasnya.
Tapi pikiran gak mungkin mempertahankannya lagi.
Entah apa yang bisa meyakinkan.
Semakin aku menghiraukan pikiran semakin sakit jugaa hati ini.
Tapi jika menurutkan hati, aku semakin tenggelam di dalam ketidakpastian.
Tapi memang di dalam dunia ini gak ada yg pasti.
Hanya Allah dan takdirnya yang pasti.
Apa aku harus menunggu takdir Allah sementara pikiran ini udah terlalu berat memikirkan semua tentangnya.
Apa harus melupakannya.
Sementara dia sendiri ingin selalu di ingat.
Apa harus aku meninggalkan dia sementara dia selalu datang datang dan datang kembali dan tak pernah pergi.
Bingung.....
Jika pada kesempatan yang ada, kita tak bisa menggunakannya,
mohon bersabar sayang, ini ujian.
Jika pada kesempatan ini, kerinduan kita tak sampai.
Ku rindukanmu hanya lewat tulisan ini.
Walaupun kini entah kenapa kita terasa berbeda.
Entah keadaan yang membuat kita seperti ini.
Entah diri kita sendiri yang membuat.
Aku pun tak ingin semua ini terjadi.
Aku tak ingin menjauh darimu.
Tak ingin dan tak bisa.
Akupun tak tahu kau merasakan ini atau tidak.
Dunia serasa sempit sehingga aku tak bisa melihat insan lain selain dirimu.
Aku harap kau bersabar menunggu.
Tidak, aku harap kau juga merasakan kerinduanku.
Karena apa yang aku yakini dan aku rasakan tak pernah berubah.
Sejak dulu… -2017-
Kadang
inget,kadang pengen ngelupain.
Kadang
pengen lari dari semua rasa sakit ini,
Kadang
pengen netep aja.
Tapi
kadang jelas,kadang abu-abu.
Lo
itu abu-abu.
Jangan salahin gue ya kalau gue udah nyaman sama yang lain.
Tapi gue memang belum bisa
ngilangin lo di hati gue.
Gue masih berusaha buat
dia tapi memang gue akui kalau lo itu yang buat gue jadi berarti.
Hampa gue tanpa lo.
Cinta yang sesungguhnya
belum terlihat.
Tapi cinta sesungguhnya
udah gue rasakan.
Mungkin inilah terakhir
kali gue merasakan cinta seperti ini.
Masih ada,makin
bertambah,takkan hilang.
Lo yang terindah.
Yang tak pernah bisa gue
lupakan.
Aku mengenalmu lewat
tatap.
Tertarik padamu lewat
ceritamu.
Bersama denganmu lewat
senyumanmu.
Menyukaimu lewat hujan.
Tidak bisa berpisahpun
karena hujan.
Dan ketika hujan berhenti.
Aku tersadar.
Hujan pergi kau pun pergi.
Apa aku harus menunggu hujan
selanjutnya?
Kan kujawab dengan
lantang TIDAK.
Karena dihujan berikutnya
mungkin ada orang
yang membawakanku payung
untuk kupergi dari hujan.
Akhirnya aku merelakannya.
Lagi –lagi. Ini terjadi
lagi.
Entah apa yang sudah kulakukan pada hatiku.
Tak bisakah aku mencintai
seseorang yang mencintaiku juga?
Aku lelah. Bisa dibilang
begitu.
Tapi untuk merelakanya pun
tak semudah yang dibayangkan.
Berkali-kali kujatuh lagi
dalam perangkap cintanya.
Cintanya yang semu.
Karena semua telah kurelakan.
Aku hanya ingin semuanya
berlalu.
Jauhkanlah dari semua yang menyakitiku.
